
Cara Membuat Prompt yang Baik: 4 Konteks Wajib + Contoh
Cara Membuat Prompt yang Baik: 4 Konteks Wajib + Contoh
Jawaban AI terasa seperti artikel yang bisa ditemukan di mana saja? Itu bukan karena AI-nya malas. AI cuma tahu apa yang kamu tulis. Kalau yang kamu tulis cuma satu kalimat, AI harus menebak sisanya, dan tebakan paling aman adalah jawaban yang cocok untuk semua orang.
Jawaban singkatnya: cara membuat prompt yang baik adalah memberi AI empat konteks. Tujuan (kamu mau apa), target (siapa yang membaca hasilnya), situasi (latar belakang yang hanya kamu tahu), dan format (bentuk dan panjang hasil). Dengan empat hal ini, AI tidak perlu menebak, sehingga jawabannya lebih spesifik.
Di webinar Diskusi Permasalahan Prompting AI bersama Pawang pada 3 Oktober 2026, ini salah satu temuan yang dibahas. Beberapa peserta mengira AI otomatis paham maksud mereka, padahal tanpa konteks yang jelas, jawabannya cenderung umum dan kurang sesuai kebutuhan.
4 konteks yang harus ada di prompt
1. Tujuan: kamu mau apa dan untuk apa?
"Buatkan email" dan "buatkan email untuk menagih pembayaran yang terlambat dua minggu, tanpa merusak hubungan dengan klien" menghasilkan dua email yang sangat berbeda. Tujuan memberi tahu AI hasil akhir seperti apa yang dianggap berhasil.
Contoh: "Saya mau meyakinkan atasan untuk menyetujui pembelian software baru."
2. Target: siapa yang akan membaca atau memakai hasilnya?
Penjelasan untuk direktur berbeda dengan penjelasan untuk anak SMA. Begitu AI tahu pembacanya, ia bisa menyesuaikan istilah, panjang, dan nada.
Contoh: "Pembacanya pemilik UMKM yang belum pernah memakai aplikasi akuntansi."
3. Situasi: apa yang sedang terjadi?
Situasi adalah latar belakang yang hanya kamu yang tahu: kondisi bisnismu, masalah yang sedang dihadapi, apa yang sudah pernah dicoba.
Contoh: "Penjualan turun sejak ada kompetitor baru di dekat toko. Kami sudah coba diskon, tapi tidak banyak berpengaruh."
4. Format hasil: bentuknya seperti apa?
Tabel, poin-poin, paragraf, caption, naskah video? Berapa panjang? Kalau tidak disebut, AI akan memilih format default yang belum tentu cocok dengan kebutuhanmu.
Contoh: "Buat dalam bentuk tabel tiga kolom: masalah, penyebab, solusi."
Contoh prompt sebelum dan sesudah diberi konteks
Tanpa konteks:
Buatkan strategi marketing.
Kemungkinan besar hasilnya daftar umum: pakai media sosial, kenali target pasar, buat konten menarik. Tidak salah, tapi juga tidak bisa langsung dipakai.
Dengan 4 konteks:
[Tujuan] Saya mau menaikkan penjualan katering harian saya dalam 3 bulan ke depan.
[Target] Pelanggan saya karyawan kantor di sekitar Sudirman, Jakarta, umur 25-40 tahun.
[Situasi] Selama ini saya hanya jualan lewat WhatsApp ke pelanggan lama, belum punya
Instagram, dan budget promosi sekitar Rp1 juta per bulan.
[Format] Buat dalam bentuk rencana mingguan untuk bulan pertama, maksimal 10 poin.
Sekarang AI tahu siapa kamu, siapa pelangganmu, apa batasanmu, dan bentuk jawaban yang kamu butuhkan. Jawabannya bisa jauh lebih spesifik.
Catatan: contoh di atas adalah ilustrasi, bukan prompt peserta.

Template prompt yang bisa langsung kamu pakai
Tujuan: [apa yang ingin dicapai]
Target: [siapa yang akan membaca/memakai hasilnya]
Situasi: [latar belakang, kondisi saat ini, yang sudah dicoba]
Format: [bentuk dan panjang hasil yang diinginkan]
Permintaan: [tugas yang kamu minta]
Tidak harus selalu memakai label seperti ini. Yang penting keempat informasinya ada. Di artikel 5 kesalahan prompt yang bikin jawaban ChatGPT meleset, kami juga membahas rumus Peran, Tugas, Konteks, Format. Keduanya sejalan: intinya, AI perlu tahu siapa kamu, apa yang kamu mau, dan hasil seperti apa yang kamu harapkan.
Bagaimana kalau takut memberi terlalu banyak informasi ke AI?
Kekhawatiran ini wajar dan juga muncul di webinar. Kabar baiknya, konteks yang dibutuhkan biasanya tidak perlu data sensitif. "Pelanggan saya karyawan kantor" sudah cukup, kamu tidak perlu menyebut nama dan nomor telepon mereka. Penjelasan lebih lengkap ada di apakah ChatGPT menyimpan percakapan kita dan cara aman memasukkan data klien ke ChatGPT.
FAQ
Bagaimana cara membuat prompt yang baik? Beri AI empat konteks: tujuan, target pembaca, situasi atau latar belakang, dan format hasil. Setelah itu, perbaiki hasilnya lewat revisi di chat yang sama.
Kenapa jawaban ChatGPT terasa umum? Biasanya karena prompt-nya kurang konteks. Tanpa tujuan, target, situasi, dan format, AI memberi jawaban yang aman untuk semua orang.
Apakah prompt harus panjang supaya hasilnya bagus? Tidak. Yang penting konteksnya lengkap. Prompt panjang yang penuh aturan tanpa konteks justru bisa membuat hasil kaku, seperti dibahas di prompt terlalu panjang bikin jawaban AI kaku.
Ini satu dari lima masalah yang kami bahas di 5 kesalahan menggunakan AI. Kalau mau belajar dari dasar secara bertahap, mulai dari kelas Dasar Prompting.
Coba template di atas di playground yang ada di kelas Pawang dan lihat bedanya.