Kembali ke Blog
Batas aman pakai AI untuk skripsi: yang boleh, yang dilarang, dan yang wajib dilakukan

Cara Pakai AI untuk Skripsi Tanpa Melanggar Aturan Kampus

Pada Juni 2025, sekelompok peneliti meminta GPT-4o menyusun enam tinjauan pustaka. Dari 176 referensi yang dibuatnya, 35 ternyata tidak pernah ada. Untuk topik yang jarang diteliti, hampir 3 dari 10 referensi adalah karangan (JMIR Mental Health).

Referensi seperti itu bisa berujung serius kalau masuk ke skripsi. Peraturan integritas akademik menyebut pembuatan informasi fiktif sebagai fabrikasi, dengan sanksi sampai pembatalan ijazah.

Jawaban singkatnya: kamu boleh pakai AI untuk skripsi, selama AI jadi alat bantu dan kamu tetap penulisnya. UI dan Brawijaya mengizinkan AI untuk mencari ide, memahami materi, dan merapikan bahasa. Yang dilarang: menyuruh AI menulis skripsi, menyembunyikan pemakaiannya, dan memakai referensi tanpa dicek. Aturan pastinya tetap ikut kampus dan dosenmu.

Bolehkah pakai AI untuk skripsi?

Boleh, dengan batas. Sampai Oktober 2026, belum ada peraturan nasional yang khusus mengatur AI di skripsi. Pegangan nasionalnya adalah Panduan Penggunaan Generative AI pada Pembelajaran di Perguruan Tinggi dari Kemendikbudristek (Oktober 2024). Panduan ini menempatkan AI sebagai "alat bantu awal, yang perlu difinalisasi oleh mahasiswa", dan menyerahkan aturan detailnya ke kampus masing-masing (Panduan GenAI Kemendikbudristek).

Panduan itu juga mencantumkan hal yang sebaiknya dilakukan dan dihindari. Dua yang paling relevan untuk skripsi:

  • Lakukan: menyampaikan dengan jelas alat bantu AI yang dipakai.

  • Hindari: menyembunyikan penggunaan AI, dan menganggap hasil AI selalu akurat tanpa sikap kritis.

Karena aturan detail diserahkan ke kampus, berikut contoh aturan yang sudah terbit:

Kampus

Yang boleh

Yang dilarang

Yang wajib

Universitas Indonesia (Peraturan Rektor 16/2025)

Memakai AI dalam penulisan ilmiah

Menjadikan AI sebagai penulis

Mencantumkan acknowledgment, verifikasi referensi, uji kemiripan

Universitas Brawijaya (Peraturan Rektor 122/2025)

Mencari sumber bacaan, mencari ide, memahami materi sulit

Mengerjakan tugas sepenuhnya dengan AI, mengabaikan sitasi

Tidak memasukkan data pribadi ke AI

IPB (Panduan AI, Oktober 2025)

Memakai AI kalau dosen mengizinkan

Menyalin jawaban AI tanpa memahami isinya

Bertanya dulu ke dosen

Telkom University (Pedoman AI 2025)

Tergantung level yang ditetapkan dosen per tugas

Memasukkan nama, NIM, nilai, atau isi tugas ke AI publik

Mengikuti level izin dari dosen

FEB Universitas Negeri Makassar (Pedoman AI Skripsi, Juni 2026)

Memperbaiki tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat

Menulis keseluruhan proposal atau skripsi secara otomatis

Melampirkan deklarasi penggunaan AI di skripsi

Sumber: UI, Brawijaya, IPB, Telkom University, FEB UNM.

Kalau dirangkum, ada empat aturan yang muncul di hampir semua pedoman:

  1. AI boleh dipakai sebagai alat bantu untuk ide, kerangka, memahami materi, dan bahasa.

  2. Kamu tetap penulisnya. Isi, argumen, dan analisis harus datang darimu.

  3. Cek setiap fakta dan referensi sebelum masuk ke naskah.

  4. Terbuka soal pemakaian AI, lewat acknowledgment atau lampiran deklarasi.

Kampusmu belum ada di tabel? Panduan nasional menyarankan mahasiswa aktif berkonsultasi ke dosen tentang kebijakan AI. Tanyakan ke dosen pembimbing sebelum mulai, lalu catat jawabannya.

Yang boleh dan yang berisiko di tiap tahap skripsi

Tidak semua tahap skripsi punya risiko yang sama. Merapikan kalimat yang kamu tulis sendiri hampir selalu aman. Menyuruh AI membuat data penelitian hampir selalu melanggar.

Tahap

Umumnya aman

Hati-hati

Hindari

Cari judul dan ide

Brainstorming topik, mempersempit masalah penelitian

Menerima judul dari AI tanpa cek kebaruan

Tinjauan pustaka

Meminta penjelasan teori, meringkas abstrak yang kamu tempel sendiri

Meminta daftar referensi ke chatbot

Mengutip referensi yang belum kamu temukan dan baca sendiri

Metode dan data

Memahami metode analisis, contoh kode statistik

Menyusun instrumen penelitian tanpa validasi dosen

Membuat data, responden, atau hasil wawancara fiktif

Analisis dan pembahasan

Menguji logika argumen yang kamu tulis

Meminta interpretasi hasil

Menyalin pembahasan buatan AI ke naskah

Menulis dan menyunting

Merapikan tata bahasa dan ejaan tulisanmu

Memparafrasekan paragraf

Menyuruh AI menulis bab utuh

Persiapan sidang

Simulasi pertanyaan penguji

Batas paling keras ada di data penelitian. Menurut Permendikbudristek 39/2021 tentang Integritas Akademik, fabrikasi adalah "pembuatan data penelitian dan/atau informasi fiktif", dan falsifikasi adalah "perekayasaan data dan/atau informasi penelitian". Sanksinya untuk mahasiswa berjenjang, dari pengurangan nilai sampai pemberhentian sebagai mahasiswa dan pembatalan ijazah (Permendikbudristek 39/2021). Peraturan ini tidak menyebut AI secara khusus. Definisinya mencakup data dan informasi fiktif apa pun, jadi data yang dibuat dengan bantuan AI tetap bisa masuk kategori ini.

Risiko terbesar: referensi yang tidak pernah ada

Chatbot seperti ChatGPT dan Gemini menyusun daftar pustaka dengan menulis teks yang terlihat seperti referensi. Kalau tidak tersambung ke basis data jurnal, ia bisa mengarang judul, penulis, atau tahun yang terdengar masuk akal.

Penelitian yang dikutip di awal artikel ini menemukan 19,9% referensi buatan GPT-4o adalah karangan, dan 45,4% referensi yang benar-benar ada pun mengandung kesalahan, misalnya tahun atau nomor halaman yang keliru. Semakin jarang topiknya diteliti, semakin tinggi angka karangannya: 6% untuk depresi, 28 sampai 29% untuk topik yang lebih jarang (JMIR Mental Health, November 2025). Skripsi biasanya membahas topik yang spesifik, jadi risikonya justru lebih besar.

Cara mengecek setiap referensi sebelum dipakai:

  1. Cari judulnya di Google Scholar atau Garuda, persis seperti yang ditulis.

  2. Cek DOI-nya. Tempel di doi.org. Kalau tidak membuka artikel yang sama, referensinya salah.

  3. Baca abstraknya. Pastikan isinya memang mendukung kalimat yang kamu tulis.

  4. Cocokkan detailnya: nama penulis, tahun, jurnal, dan halaman.

Lebih aman lagi, cari referensi dengan alat yang mengambil data dari basis data jurnal, seperti Google Scholar, Semantic Scholar, atau Elicit. Chatbot paling aman dipakai untuk memahami paper yang sudah kamu temukan sendiri. Teknik mengecek jawaban AI dibahas lengkap di lesson Hallucination & Fact-Checking dalam kelas Nulis Skripsi Lebih Cepat.

Contoh prompt yang aman untuk skripsi

Prompt yang aman punya satu kesamaan: bahan utamanya datang darimu, dan AI membantu kamu berpikir atau merapikan. Berikut empat contoh yang bisa langsung kamu pakai.

1. Mempersempit topik

Saya mahasiswa Manajemen yang tertarik meneliti pemakaian QRIS di UMKM kuliner Yogyakarta. Bantu saya mempersempit topik ini menjadi 5 rumusan masalah yang bisa diteliti dalam satu semester dengan kuesioner. Untuk tiap rumusan, sebutkan variabel yang diukur. Jangan tulis daftar referensi.

2. Memahami paper yang kamu temukan

Berikut abstrak dan bagian metode dari paper yang saya baca: [tempel teks]. Jelaskan dengan bahasa sederhana: apa pertanyaan penelitiannya, metode apa yang dipakai, dan apa temuan utamanya. Tandai bagian yang tidak bisa kamu jawab dari teks ini.

3. Merapikan paragraf yang kamu tulis sendiri

Ini paragraf latar belakang yang saya tulis: [tempel paragraf]. Perbaiki tata bahasa dan ejaannya sesuai bahasa Indonesia baku, tanpa mengubah isi dan argumen. Tampilkan bagian yang kamu ubah.

4. Latihan sidang

Saya akan sidang skripsi dengan judul [judul] dan metode [metode]. Berperanlah sebagai dosen penguji yang kritis. Ajukan 10 pertanyaan yang paling mungkin ditanyakan, satu per satu, dan beri masukan atas jawaban saya.

Perhatikan kalimat "jangan tulis daftar referensi" dan "tandai bagian yang tidak bisa kamu jawab". Dua kalimat itu mengurangi peluang AI mengarang. Rumus prompt yang lebih lengkap ada di cara membuat prompt yang baik, dan cara menyusun kerangka skripsi bersama AI ada di lesson Susun Outline Skripsi Pakai AI.

Data yang tidak boleh kamu masukkan ke AI

Skripsi sering melibatkan data orang lain. Panduan nasional mencantumkan "memasukkan segala jenis data secara tidak bertanggungjawab tanpa izin" sebagai hal yang harus dihindari. Telkom University melarang memasukkan nama, NIM, nilai, atau isi tugas ke AI publik, dan FEB UNM melarang mengunggah data pribadi responden serta data rahasia institusi.

Jadi, sebelum menempel data ke ChatGPT atau Gemini:

  • Hapus identitas responden. Ganti nama dengan kode, misalnya "Responden 01".

  • Jangan unggah transkrip wawancara mentah yang memuat nama, alamat, atau nomor telepon.

  • Jangan unggah data perusahaan atau instansi tempat kamu meneliti tanpa izin tertulis.

Cara menyamarkan data dibahas di cara pakai AI untuk kerja tanpa membocorkan data klien, dan berlaku juga untuk data penelitian.

Cara menulis pernyataan penggunaan AI di skripsi

Sebagian besar pedoman meminta kamu terbuka. UI mewajibkan acknowledgment. FEB UNM mewajibkan lampiran deklarasi yang sekurang-kurangnya memuat nama aplikasi AI, tujuan penggunaannya, dan bagian skripsi yang dibantu.

Kalau kampusmu belum punya format resmi, kamu bisa memakai contoh ini dan menyesuaikannya:

Pernyataan Penggunaan AI

Dalam menyusun skripsi ini, saya menggunakan ChatGPT (OpenAI) untuk mempersempit rumusan masalah pada Bab I, menjelaskan konsep analisis regresi yang saya pelajari untuk Bab III, dan memperbaiki tata bahasa pada Bab I sampai V. Seluruh isi, data, analisis, dan kesimpulan adalah hasil kerja saya. Setiap referensi telah saya periksa langsung ke sumber aslinya. Saya bertanggung jawab penuh atas isi skripsi ini.

Kalau kampusmu memakai gaya APA dan kamu mengutip jawaban AI secara langsung, formatnya menurut pedoman APA terbaru (September 2025) adalah:

OpenAI. (2025). ChatGPT [Large language model]. https://chatgpt.com/

Kutipan di dalam teks ditulis (OpenAI, 2025). APA juga menyarankan prompt yang kamu pakai dijelaskan di bagian metode atau lampiran. Prompt tidak dimasukkan ke daftar pustaka (APA Style).

Bagaimana dengan detektor AI seperti Turnitin?

Banyak kampus memakai Turnitin untuk mengecek kemiripan skripsi, dan sebagian juga memakai fitur deteksi AI-nya. Ada tiga hal yang perlu kamu tahu:

  • Turnitin sendiri mengakui skor rendah kurang bisa diandalkan. Untuk skor AI di bawah 20%, Turnitin hanya menampilkan tanda bintang tanpa angka, karena di rentang itu kesalahan deteksi lebih sering terjadi. Turnitin juga menyatakan hasilnya tidak boleh jadi satu-satunya dasar untuk menindak mahasiswa (Turnitin).

  • Dokumentasi resmi Turnitin hanya menyebut bahasa Inggris, Spanyol, dan Jepang untuk deteksi tulisan AI. Bahasa Indonesia tidak disebut (Turnitin). Tanyakan ke kampusmu bagaimana skripsi berbahasa Indonesia diperiksa.

  • Detektor bisa salah menuduh. Studi Stanford menemukan tujuh detektor AI rata-rata salah menandai 61% esai bahasa Inggris tulisan penutur non-native sebagai buatan AI. Turnitin tidak termasuk dalam tujuh detektor itu, dan detektor yang lebih baru sudah membaik, tapi risiko salah tuduh tetap ada (Liang dkk., 2023). Pedoman FEB UNM bahkan menyatakan hasil detektor AI tidak dapat jadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan pelanggaran.

Cara terbaik melindungi diri adalah menyimpan bukti proses: riwayat versi draf di Google Docs atau Word, catatan bimbingan, dan riwayat chat dengan AI. Kalau suatu saat skormu dipertanyakan, bukti itu menunjukkan bahwa kamu yang menulis.

FAQ

Apakah boleh pakai ChatGPT untuk skripsi? Boleh, sebagai alat bantu, selama kampus dan dosenmu mengizinkan. Panduan Kemendikbudristek menempatkan AI sebagai alat bantu awal yang harus difinalisasi mahasiswa. Kampus seperti UI dan Brawijaya mengizinkan AI untuk ide, memahami materi, dan bahasa, tapi melarang AI menjadi penulis.

Apakah skripsi yang dibantu AI termasuk plagiat? Tidak otomatis. Namun menyalin teks AI tanpa memahami dan mengecek sumbernya bisa dianggap plagiat, dan referensi atau data fiktif dari AI termasuk fabrikasi menurut Permendikbudristek 39/2021.

Bagaimana cara mencantumkan penggunaan AI di skripsi? Ikuti format kampusmu. Kalau belum ada, tulis pernyataan berisi nama aplikasi AI, tujuan penggunaannya, bagian skripsi yang dibantu, dan pernyataan bahwa isi serta tanggung jawab tetap padamu. Letakkan di kata pengantar, bagian metode, atau lampiran sesuai arahan dosen.

Apakah Turnitin bisa mendeteksi tulisan AI berbahasa Indonesia? Dokumentasi resmi Turnitin per Oktober 2026 hanya menyebut deteksi tulisan AI untuk bahasa Inggris, Spanyol, dan Jepang. Bahasa Indonesia tidak disebut. Tanyakan ke kampusmu alat apa yang dipakai untuk memeriksa skripsi.

Kenapa referensi dari ChatGPT sering palsu? Chatbot menyusun referensi sebagai teks yang terdengar masuk akal, dan tidak selalu mengambilnya dari basis data jurnal. Satu studi tahun 2025 menemukan 19,9% referensi buatan GPT-4o adalah karangan. Selalu cek judul, DOI, dan abstraknya langsung ke sumbernya.

Apa sanksinya kalau ketahuan menyalahgunakan AI di skripsi? Tergantung aturan kampus dan tingkat pelanggarannya. Peraturan Rektor UI menyebut sanksi dari pembinaan, teguran, penurunan nilai, sampai pembatalan karya ilmiah. Untuk fabrikasi data atau plagiat, Permendikbudristek 39/2021 menyebut sanksi sampai pemberhentian sebagai mahasiswa dan pembatalan ijazah.


Sumber

Baca juga

Kelas terkait

Lagi ngerjain skripsi? Mulai dari lesson gratis Susun Outline Skripsi Pakai AI di kelas Nulis Skripsi Lebih Cepat.